Akhir-akhir ini ramai diperbancangkan di media maupun di
masyarakat luas penghapusan kolom agama di dalam ktp, pro dan kontra terjadi di
kalangan masyarakat luas maupun dikalangan para cendekia, sebab kolom agama di
dalam ktp ini seperti hanya pelengkap identitas saja namun begitu vital dan
sensitif untuk dipermasalahkan.Di indonesia memang perbedaan itu hal yang biasa
beraneka ragamnya suku dan agama yang tersebar di masyarakat luas menjadi
gambaran bahwa indonesia adalah negara yang menghargai perbedaan. namun
pluralisme ini ditafsirkan berbeda-beda pula yang menghasilkan dan melahirkan
persepsi diskriminatif di kalangan masyarakat, yang lebih hebat lagi bukan
orang yang tidak berilmu yang menimbulkan persepsi-persepsi seperti
ini.Sebetulnya orang-orang alim itu adalah figur yang dijadikan contoh dan
pelurus bagi umat bukan malah jadi perusak dan pembuat kerusakan dari perbedaan
yang terjadi, banyak terjadi fenomena-fenomena yang memalukan dan melibatkan
abdi-abdi allah ini, memang jika berkata tentang benar atau salah relatif
jawbannya dan kebenaran kini dapat diperjual belikan dan diciptakan sendiri,
akan tetapi bila kita jadikan acuan sunah rasululallah yang pernah ditanya oleh
sahabatnya tentang kebenaran, rasulullah menjawab kebenaran itu disini beradanya
(seraya Ia memegang dadanya). jika yang dimaksudkan itu berada di dalam hati,
memang hati manusia itu sama hanya saja niat yang ditanamkan setiap manusia
berbeda, disini menimbukan pluralisme kembali terjadi sebab pruralisme adalah
kodrat manusia, perbedaan itu sudah menjadi kodrat dan tidak bisa di sangkal
lagi.
Polemik terjadi ketika mulai ramai
dibincangkan tentang penhapusan kolom agama di dalam ktp Pemerintah, dalam hal ini Kemendagri, tidak pernah
punya pemikiran untuk menghapus hal-hal yang selama ini sudah berjalan dengan
baik. Adanya kolom agama dalam KTP ‘kan tidak menjadi penghalang bagi kami
untuk memberikan pelayanan'. Selain itu, manfaatnya lebih besar, kata
Zudan. Dia kemudian memberikan contoh kegunaan KTP ketika seseorang
meninggal dunia. Dari mana kita tahu perlakuan agama yang tepat kepada jenazah?
Apakah harus dikafani, atau diberi perlakuan sesuai dengan agama Kristen atau
Katolik, Hindu, atau Buddha? namun terjadi perbedaan pandangan disini. Bagaimanapun
aktivis LSM Setara Institute -yang membidangi masalah kebebasan beragama- Bonar
Tigos Naipospos, mengatakan kolom agama dalam KTP sejauh ini menimbulkan
perlakuan diskriminasi terhadap sejumlah warga Indonesia.”Dampak adanya kolom
agama pada KTP sejauh ini menimbulkan diskriminasi terhadap warga Indonesia,
khususnya kepada para penganut aliran kepercayaan. Meskipun saat ini mereka
diberikan hak untuk mengosongkan kolom agama pada KTP, mereka bisa dituding
ateis, simpatisan komunis, dan dilecehkan, kata Bonar. Bonar menambahkan
argumentasi bahwa kolom agama pada KTP memudahkan penanganan keagamaan terhadap
jenazah dianggap sumir.Itu bisa ditanyakan ke orang-orang terdekatnya atau keluarganya. Polemik
mengenai kolom agama KTP bukan kali ini saja terjadi.Pada Desember 2013 lalu,
Basuki Tjahaja Purnama yang kala itu masih menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta
menilai pencantuman agama dalam KTP tidak terlalu penting dan tak memiliki manfaat
bagi orang lain.
Seharusnya kita kembali lagi pada pancasila soal agama
kembali pada iman masing-masing setiap makhluk karna tuhan telah
mengkaruniakannya kepada setiap ciptaanya tinggal bagaimana kita sebagai
manusia mengamalkannya. Jika ada isu tentang adanya kepentingan-kepentingan
kelompok tertentu tidak usah terlalu dipermasalahkan sebab Indonesia mempunyai jati
diri mempunyai ideologi dan undang-undang yang dapat membatasi ruang gerak
kelompok-kelompok tertentu yang berkepentingan. Tidak perlu dijadikan
perdebatan panjang Indonesia baru saja melaksanakan pesta demokrasi, terjadi
transisi dari pemerintahan lama ke pemerintahan baru, yang harus difokuskan
adalah bagaimana perubahan terjadi, pembenahan-pembenahan harus dilakukan, dan
harus selalu dipantau bersama kinerja pemerintahan agar terjadi kontrol yang
baik bagi pemerintahan baru. Seperti presiden ke-4 Indonesia, gusdur yang
pernah berkata “tidak penting apa agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan
hal baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”.
sumber : http://ariosasongko.weebly.com/4/post/2012/08/politik-sara.html
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/06/140619_agama_ktp
Tidak ada komentar:
Posting Komentar