Kamis, 30 Oktober 2014

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian

      Evaluasi alternatif sebelum pembelian merupakan tahap paling akhir dari pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen. Setelah  melalui beberapa tahap proses pengambilan keputusan dari memahami kebutuhan dan selanjutnya hingga menimbang evaluasi alternatif pembelian yaitu memilih alternatif pembelian lain dan lalu di evaluasi.
       Kriteria evaluasi :
Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternative-alternative pilihan , Kriteria alternative dapat muncul dalam berbagai bentuk ,misalnya dalam membeli mobil seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria ,keselamatan , kenyamanan , harga , merek , negara asal ( country of origin ) dan juga spekhedonik seperti gengsi , kebahagian , kesenangan dan sebagainya.
Beberapa kriteria evaluasi yang umum adalah :

a. HargaHarga menentukan pemilihan alternative.Konsumen cenderung akanmemilih harga yang murah untuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengavaluasi kualitas produk maka harga merupakan indicator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.

 b. Nama MerekMerek terbukti menjadi determinan dalam setiap pembelian . nampaknyamerek merupakan pengganti dari mutu dan spesifikasi produk.Ketika konsumensulit menilai kriteria kualitas produk kepercayaan pada merek lama yang sudahmemiliki reputasi sangat baik dapat mengurangi resika kesalahan dalam pembelian.

c. Negara Asal Negara asal dimana produk di hasilkan menjadi pertimbangan pentingdikalangan konsumen negara asal sering mencitrakan kualitas produk.Konsumenmungkin sudah tidak meragukan lagi kualitas produk elektronik dari jepang .Sementara untuk jam tangan nampaknya jam tangan buatan swiss merupakan produk yang handal tak teragukan .

d. Saliensi ( Atribut yang mencolok )Konsep saliensi mencerminkan ide bahwa kriteria evaluasi kerap berbedadengan pengaruhnya untuk konsumen yang berbeda dan juga produk yang berbeda. 

Pada suatu produk mungkin seorang konsumen mempertimbangkan bahwa harga adalah  hal yang penting , tetapi tidak untuk produk yang lain .Atribut yang mencolok ( salient) yang benar-benar mempengaruhi proses evaluasidi sebut sebagai atribut determinan.
            Menentukan alternatif pilihan Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli itu sebenarnya merupakankumpulan dari sejumlah keputusan.Setiap keputusan membeli mempunyai beberapa komponen:
a. Keputusan tentang jenis produk , 
b. Keputusan tentang bentuk produk ,
c. Keputusan tentang merk ,
d. Keputusan tentang penjualnya ,
e. Keputusan tentang jumlah produk ,
f. Keputusan tentang waktu pembelian ,dan
g. Keputusan tentang cara pembayaran.

Mengevaluasi alternatif. Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan menentukan alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Setelah kriteria yang akan menjadi alterlatif pilihan ditentukan barulah konsumen menentukan alternative produk yang menjadi pilihan.

Menaksir alternatif pilihan Ada tiga sudut pandang dalam menganalisis/menaksir alternatif pilihan keputusan konsumen :

a.Sudut Pandang EkonomisKonsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional, yangmengetahui semua alternatif produk yang tersedia dan harus mampu membuat peringkatdari setiap alternatif yang ditentukan dipertimbangkan dari kegunaan dan kerugiannyaserta harus dapat mengidentifikasikan satu alternatif yang terbaik, disebut economic man. 

b.Sudut Pandang KognitifKonsumen sebagai kognitif man atau sebagai problem solver. Kosumenmerupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi informasi tentang produk dan gerai. Pengolah informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, terjadi
inisiatif untuk membeli atau menolak produk. Cognitive man berdiri di antara economicman dan passive man, seringkali cognitive man punya pola respon terhadap informasiyang berlebihan dan seringkali mengambil jalan pintas, untuk memenuhi pengambilankeputusannya pada keputusan yang memuaskan.

c. Sudut Pandang EmosianalMenekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen membeli suatu produk. Favoritisme buktinya seseorang berusaha mendapatkan produk favoritnya,apapun yang terjadi. Benda-benda yang menimbulkan kenangan juga dibeli berdasarkanemosi. Anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar. Mendapatkan produk yang membuat perasaannya lebih baik merupakan keputusan yang rasional.

Menyeleksi aturan pengambilan keputusanTeori-teori pengambilan keputusan konsumen bervariasi, tergantung kepada asumsi peneliti mengenai sifat-sifat manusia Terdapat empat pandangan atas pengambilan keputusan konsumen:

a. Pandangan ekonomi,Konsumen sering dianggap sebagai pengambil keputusan yang rasional. 

b. Pandangan pasif,Menggambarkan konsumen sebagai orang yang pada dasarnya tunduk padakepentingan melayani diri dan usaha promosi para pemasar. Para konsumen dianggapsebagai pembeli yang menurutkan kata hati dan irasional.

c. Pandangan kognitif,Menggambarkan konsumen berada diantara pandangan ekonomi dan pandangan pasif yang ekstrim, yang tidak (atau tidak dapat) memperoleh pengetahuan yang mutlakmengenai semua alternatif produk yang tersedia dan karena itu tidak dapat mengambilkeputusan yang sempurna, namun secara aktif mencari informasi dan berusahamengambil keputusan yang memuaskan.

d. Pandangan emosional,Mengambil keputusan yang emosional atau impulsive (menurutkan desakan hati).


Sumber : http://id.scribd.com/doc/241896131/Bab-4-Evaluasi-Alternatif-Sebelum-Pembelian

Rabu, 15 Oktober 2014

Kelas Sosial di Kalangan Masyarakat Indonesia

Di indonesia terdapat beberapa kalangan di dalam masyarakat, pada dasarnya ada 5 kalangan yaitu kalangan bawah, menengah bawah, menengah, menengah atas dan kalangan atas. Di indonesia kebanyakan masyarakat berada dikalangan menengah, memang dibanyak negara berkembang seperti di indonesia kalangan menengah menjadi mayoritas pendudk negara tersebut. banyak survei yang mengatakan bahwa kalangan masyarakat di indonesia adalah konsumerisme dan hedonis. Namun disini terdapat 8 sosok kelas menengah di indonesia antara lain :
Performer adalah kalangan professional dan entrepreneur yang memiliki ambisi luar biasa untuk membangun kompetensi diri. Mereka adalah self-achiever yang menggunakan kompetensi dan ketrampilan sebagai alat untuk mendongkrak tingkat ekonomi. Karena itu mereka selalu meng-update informasi, mengadopsi teknologi, dan terus belajar untuk meng-improve diri. Karena memegang informasi dan teknologi, mereka cenderung melihat persaingan (dengan rekan-rekan kerja) secara positif. Performer lebih selfish dengan misi hidup mencapai kebebasan keuangan (financial freedom). Ya, karena mereka belum puas dengan tingkat kehidupan ekonomi saat ini.
Aspirator adalah performer yang sudah mapan dan cukup puas dengan kondisi ekonomi saat ini. Mereka juga open mind terhadap globalisasi dan dan mengadopsi nilai-nilai universal. Karena sudah merasa cukup, maka orientasi hidup mereka tidak lagi selfish. Ia mulai memikirkan hal-hal di luar dirinya: mulai peduli dengan anggota DPR yang hobi korupsi; mulai peduli pesawat kok jatuh melulu; mulai peduli dengan pemanasan global atau hutan Kalimantan yang dibabat habis. Ia punya harapan menjadi influencer bagi masyarakat, lingkungan, dan negaranya. Jadi tidak benar, seluruh kelas menengah Indonesia itu acuh tak acuh terhadap negaranya.
Expert kebanyakan adalah profesional di berbagai bidang mulai dari dokter, arsitek, konsultan, atau pengacara yang selalu berupaya menjadi ekspert di bidang yang digelutinya. Setiap hari mereka sibuk menekuni bidang profesinya dari pagi hingga larut malam. Dokter yang sudah laku misalnya, harus mengurusi pasien-pasiennya dari pagi hingga dini hari. Hidupnya cenderung rutin dan monoton, tapi mereka menikmatinya, karena semua pekerjaan itu dilakukan dengan passionate. Karena “tertawan” oleh pekerjaan, mereka tidak memiliki cukup waktu luang untuk anak-anak, jalan-jalan di mal, atau menghadiri acara-acara keluarga/kerabat. Karena itu lingkungan pergaulan mereka juga terbatas, melulu di lingkungan profesinya. Intinya, “their life is their career”.
Climber adalah para pegawai pabrik (blue collar), salesman, supervisor, dan sebagainya yang berupaya keras membanting-tulang untuk menaikkan status ekonominya. Harapan utama mereka adalah mendongkrak karir dan menaikkan taraf kehidupan menjadi lebih baik. Karena umunya masih mengawali karir, mereka masih suka pindah-pindah kerja (job-hunter), risk-taker dalam karir, dan cenderung melihat bahwa “career is a journey”. Seperti halnya Expert, mereka memiliki sedikit waktu luang karena pagi-pagi harus berangkat ke kantor atau pabrik dan lepas Magrib baru bisa pulang ke rumah dalam kondisi capek. Umumnya mereka memiliki family-values yang tinggi dan bekerja keras melulu untuk keluarga. Karena itu mereka adalah sosok “hero of their family”.
Follower umumnya adalah kalangan muda (SMA dan kuliah) yang membutuhkan panutan (role model) untuk menemukan dan menunjukkan eksistensinya. Kenapa butuh panutan? Ya karena mereka masih mencari jati diri, belum punya banyak pengalaman, dan wawasannya masih terbatas (short-term vision, less sense of purpose). Mereka adalah generasi galau (ababil: “ABG labil”). Karena hal ini pula, tangible aspect seperti tampilan fisik, kepemilikan barang mahal, atau citra diri menjadi sesuatu yang penting. Bagi mereka teman adalah segalanya (friends are everything) dan diterima di lingkungan teman merupakan sesuatu yang penting untuk menunjukkan eksistensi mereka. Koneksi dengan teman (connecting with friends) mereka lakukan melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter.
Trend-setter memiliki daya beli yang lebih tinggi (more resources) dibanding follower. Karena lebih mampu, mereka ingin menjadi panutan dalam gaya hidup (peripheral lifestyle) seperti fesyen, gaya selebriti, gadget, dan sebagainya) bagi teman-temannya. They are victim of trends. Mereka menemukan eksistensinya ketika diikuti dan menjadi center of attention di lingkungan teman-temannya. Untuk bisa terus mengikuti tren dan isu-isu terbaru, mereka aktif berkoneksi di lingkungan teman-temannya menggunakan Facebook atau Twitter. Dengan karakteristik seperti itu, tak diragukan lagi bahwa mereka adalah orang-orang narsis (narcissist) dan cenderung self-centered.
Flow-er adalah sosok yang tidak puas dengan tingkat kehidupan ekonominya saat ini, namun mereka tak tahu harus bagaimana untuk merubahnya. Karena tingkat pendidikan dan pengetahuan yang terbatas, mereka cenderung kurang meng-update informasi dan mengadopsi teknologi sehingga wawasan dan visi hidupnya terbatas. Dengan keterbatasan itu, hidup mereka cenderung pasrah dan mengalir (flow) di tengah perubahan kehidupan (teknologi, informasi, sosial, politik, dsb) yang cepat dan bergolak. Keluarga dan (terutama) anak adalah aset terbesar yang mereka miliki. Di tengah pergolakan hidup yang cepat pegangan mereka hanya satu, yaitu keyakinan agama (high spiritual values). Karena itu mereka cenderung menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.

Settler adalah Flow-er yang sudah memiliki kemapanan hidup. Sosok ini merintis warung atau punya lahan luas hasil warisan yang menghasilkan sumber keuangan cukup besar bagi kehidupan ekonomi. Mereka tidak lagi memiliki keresahaan hidup dari sisi ekonomis. Hanya saja, berbeda dengan Aspirator atau Performer, mereka bukanlah sosok yang knowledgeable, bisa jadi cuma lulus SD atau SMP. Karena tingkat pengetahuan yang terbatas, maka mereka cenderung memegang nilai-nilai tradisional dan fobia terhadap perkembangan informasi, teknologi, dan globalisasi. Karena sudah puas dengan sukses yang dicapai saat ini, mereka cenderung tidak belajar dan mengembangkan diri. They are at the comfort zone.
      Bila dilihat dari kelas sosial di kalangan masyarakat indonesia di atas memang dapat dikatakan bahwa masyarakat di indonesia adalah masyarakat yang konsumtif. Karena Negara-negara berkembang memang sudah menjadi tujuan penjualan produk-produk dari negara maju. Kecintaan terhadap produk dalam negeri harus terus ditingkatkan agar bangsa indonesia bisa menjadi bangsa yang mandiri. Lebih baik lagi bila kita dapat "Bikin Sendiri dan Jangan Beli"

sumber : https://id.scribd.com/doc/194081901/8-Sosok-Kels-Menengah-Indonesia

Penikmat Kopi

dewasa ini warung kopi atau coffee shop menjadi buruan orang banyak, tempat yang menjadi rumah kedua bagi sebagian orang ini terutama para pedagang kopi atau yang biasa disebut barista memang tempat yang nyaman untuk melepas kelelahan dari rutinitas sehari-hari. Namun tidak sedikit dari para penyaji kopi atau barista di beberapa coffee shop tidak mempunyai kompetensi, mereka dibentuk hanya untuk membuat kopi sesuai prosedur yang diberikan pemilik coffee shop itu sendiri. Memang sekarang ini customer kopi kebanyakan hanya ingin sekedar nongkrong atau melepas kelelahan saja tanpa mempedulikan kualitas dari kopi itu tersendiri, saya rasa jarang sekali customer yang benar-benar ingin menikmati kopi atau penikmat kopi yang datang ke gerai-gerai kopi. Jadi tidak bisa disalahkan juga konsep dari coffee shop yang hanya membuatkan kopi dan menyajikannya untuk para customer. Bagi saya jika datang ke coffee shop hanya untuk dilayani seperti itu lebih baik datang ke warkop-warkop yang tidak kalah nyamannya dengan coffee shop, karena konsep yang disediakan seperti layaknya warung kopi yang hanya menyeduhkan dan menyajikan saja tanpa memperhatikan kualitas dari kopi itu tersendiri.memang pentingnya kompetensi dari barista harus diperhatikan, sebagai salah satu contoh konsep dari salah satu gerai kopi terkenal dan sebagai market leader di indonesia yang mengkonsepkan menyatu dengan konsumen. Salah satu misinya adalah kami tidak sekedar menyajikan kopi tetapi adalah tempat konsumen menceritakan keluhannya dari rutinitas sehari-hari. Hal seperti itulah yang membuat konsumen betah dan mau kembali lagi. cusetumer adalah raja itu bukan hanya sekedar slogan klasik yang hanya dijadikan tulisan di dingding atau hiasan dalam sebuah coffee shop. Tetapi memang harus diaplikasikan agar kenyamanan dan keakraban antara konsumen dengan barista dapat terjalin. Saya pernah mengunjungi salah satu gerai kopi disekitar tempat saya kuliah, konsep dari tempat memang sangat nyaman dan membuat konsumen betah berlama-lama di coffee shop, namun skill dari baristanya tidak terlalu memuaskan, ketika saya memesan satu gelas vietnam kopi dan meminta agar kopinya lebih pekat dan tidak terlalu creamy namun mereka tidak dapat menyajikannya, entah karena kemampuan atau skill dari baristanya yang kurang kompeten atau memang sudah di konsep setiap minuman takaran dan cara penyajiannya seperti itu. Hal seperti ini sangat dikecewakan, karena dapat menurunkan kepuasan konsumen. Setiap Coffee shop memang beragam konsep dan cara penyajiannya dari mesin yang digunakan ada yang mengunakan otomatisasi mesin ada juga yang menggunakan alat kopi tradisional. kalau berbicara kualitas memang relatif tetapi untuk saya sendiri kualitas bisa ditentukan dari apa kopi itu disajikan, seperti coffee shop yang menggunakan alat kopi tradisional sebenarnya kualitas kopinya lebih baik dibandingkan dengan otomatisasi mesin, selain itu juga dari kompetensi atau skill yang didapat oleh baristanya sendiri bisa dibedakan dan dalam aplikasinya memang lebih kompeten barista yang menggunakan alat kopi tradisional daripada yang menggunakan mesin kopi. Bila dilihat dari efektifitas dan efesiensi memang menggunakan mesin lebih unggul daripada cara tradisional, karena memang sekarang ini yang mengunjungi coffee shop jarang yang memang ingin menikmati kopi itu sendiri. penikmat kopi tidak dijadikan target pasar disini karena memang dari kenyataannya tidak banyak orang yang benar-benar minta kepada kopi tetapi hanya ingin sekedar kumpul atau ngobrol-ngobrol dan melepas penat juga kelelahan dari rutinitas. Namun tetap kualitas harus diperhatikan agar dapat menciptakan kepuasan konsumen yang tidak mau pergi dan selalu datang kembali.Because coffee is not about brewing, it's about love and passion and one cup of coffee lies a thousand stories.

Minggu, 05 Oktober 2014

Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

       Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.
         Perilaku Konsumen yang menunjukkan minat dalam membeli suatu produk tertentu umumnya akan mengikuti proses pengambilan keputusan tertentu yang mengikuti langkah-langkah seperti: masalah pengakuan (kebutuhan yang tidak puas), pencarian informasi, evaluasi dari hasil yang diharapkan, pembelian, perilaku pasca pembelian.
        Proses ini merupakan pedoman untuk mempelajari Perilaku konsumen dalam membuat keputusan, tetapi penting untuk diingat bahwa mereka bisa meninggalkan seluruh ide pada setiap tahap, dan mereka tidak selalu terus dengan keputusan ini proses pembuatan hingga pembelian.
Proses pengambilan keputusan pembelian
      Sebelum dan sesudah melakukan pembelian, seorang konsumen akan melakukan sejumlah proses yang mendasari pengambilan keputusan, yakni:
1.     Pengenalan masalah (problem recognition). Konsumen akan membeli suatu produk sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, konsumen tidak dapat menentukan produk yang akan dibeli.
2.     Pencarian informasi (information source). Setelah memahami masalah yang ada, konsumen akan termotivasi untuk mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pencarian informasi. Proses pencarian informasi dapat berasal dari dalam memori (internal) dan berdasarkan pengalaman orang lain (eksternal).
3.     Mengevaluasi alternatif (alternative evaluation). Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
4.     Keputusan pembelian (purchase decision). Setelah konsumen mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen akan membuat keputusan pembelian. Terkadang waktu yang dibutuhkan antara membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual tidak sama dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.\
5.     Evaluasi pasca-pembelian (post-purchase evaluation) merupakan proses evaluasi yang dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan pembelian. Setelah membeli produk tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk tersebut sesuai dengan harapannya. Dalam hal ini, terjadi kepuasandan ketidakpuasan konsumen. Konsumen akan puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan akan merek produk tersebut pada masa depan. Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas jika produk tersebut tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan konsumen pada masa depan.
     Dari proses-proses tersebut konsumen dapat menentukan produk atau jasa yang akan dibeli, Proses tersebut harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari tahap pengenalan masalah hingga evaluasi. Agar dapat lebih mudah dalam menentukan dan mengambil keputusan pembelian.

           Terdapat lima faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:
1.     Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
2.     Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.
3.     Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
4.     Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan  Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.
      Jadi proses pengambilan keputusan konsumen merupakan tahapan dimana konsumen harus melalui beberapa tahapan untuk sampai pada pembelian. Dalam keputusan pembelian Perilaku Konsumen menunjukkan bahwa pada tahap pertama yang terjadi adalah pengakuan masalah. Pengenalan Masalah terjadi ketika konsumen dihadapkan dengan kebutuhan yang tidak puas (kebutuhan untuk liburan) dan menginginkan hasil yang terpenuhi yang memenuhi kebutuhan ini. Pengakuan Masalah ini dipicu oleh salah satu rangsangan eksternal (iklan) atau rangsangan internal (menahan lapar dan haus). Konsumen dapat mengenali terpenuhi ingin dalam beberapa cara, misalnya ketika sebuah produk lama tidak berperforma sebaik yang seharusnya, atau ketika konsumen diberi tahu tentang teknologi baru yang akan meningkatkan produk mereka saat ini pengalaman (HD baru televisi). Inti dari tujuan pemasar adalah untuk membuat konsumen sadar akan kebutuhan yang tidak puas mungkin, dan untuk menunjukkan konsumen bagaimana produk atau jasa akan memenuhi kebutuhan itu.
       Tahap kedua sebagai bagian dari Perilaku Konsumen dalam mengambil keputusan pembelian adalah mencari informasi dan organisasi informasi ini dalam bingkai individu dari referensi. Pencarian informasi melibatkan paparan sumber yang berbeda, seperti materi promosi dan menampilkan produk, aktif meneliti produk, atau mengandalkan informasi bersejarah di benak konsumen, seperti prasangka-prasangka tentang produk atau pengalaman sebelumnya (baik atau buruk) dengan produk seperti itu.
      Tidak semua keputusan membeli mengandalkan ini berat pada pengumpulan informasi, dan sejauh mana konsumen melakukan pencarian informasi sangat tergantung pada risiko yang dirasakan dari pembelian. Membeli pasta gigi mungkin tidak dianggap sebagai pembelian berisiko tinggi, dan sejauh mana konsumen akan mencari informasi hampir pasti tidak akan melebihi lingkup pengalaman sebelumnya.
      Namun, Perilaku Konsumen yang berbeda akan terlihat dala proses pembelian risiko tinggi, seperti membeli mobil baru, mungkin melibatkan upaya pencarian diperpanjang pada bagian dari konsumen, karena masalah dan waktu yang menghabiskan dalam mencari informasi yang minimal dibandingkan dengan resiko membeli mobil yang salah.
      Tahap ketiga dari Perilaku Konsumen dalam proses pengambilan keputusan, adalah evaluasi hasil yang diharapkan. Konsumen sekarang siap untuk membuat keputusan berdasarkan semua informasi yang dikumpulkan, dan mereka dibuang. Konsumen kini telah mengembangkan seperangkat kriteria terhadap yang dia akan mendasarkan keputusan ini, dan kemungkinan besar akan dapat mempersempit pencariannya turun ke hanya beberapa produk.
      Tujuan dari manajer pemasaran adalah untuk menentukan atribut produk akan meyakinkan konsumen untuk membelinya. Studi terbaru menunjukkan bahwa atribut yang merangsang emosi (seperti yang dirasakan kepercayaan, kenyamanan yang dirasakan, keunggulan yang dirasakan atau status yang dirasakan) adalah orang-orang yang beratnya paling berat dalam proses pengambilan keputusan.
      Mempelajari Perilaku Konsumen dalam tahap proses pengambilan keputusan sangat penting, karena konsumen banyak yang tidak mampu membuat keputusan rasional dengan menimbang sampai alternatif, dan jika mereka telah mencapai tahap ini, konsumen lebih emosional telah mencapai kebutaan tidak kritis di mana mereka menjadi terobsesi dengan membeli produk.
     Langkah berikutnya yang tampak sebagai Perilaku Konsumen yang umum pada proses pengambilan keputusan adalah untuk membeli produk. Konsumen telah memutuskan produk mana yang untuk membeli, atau tidak membeli apa-apa. Jika ia memutuskan untuk melakukan pembelian, langkah berikutnya dalam proses tersebut merupakan evaluasi. 

 Poses evaluasi dalam pengambilan keputusan pembelian terjadi dua kali yang pertama setelah pengenalan masalah dan pencarian informasi lalu di evaluasi terlebih dahulu apa masih ada yang kurang dari pengenalan masalhanya maupun informasi yang didapatkan atau ada yang harus diperbaiki agar tercipta pembelian yang dapat memberikan kepuasan. Evaluasi yang kedua yaitu evaluasi pasca pembelian yang dilakukan setelah proses pengambilan keputusan pembelian dan proses pembeliannya sendiri, proses evaluasi pasca pembelian merupakan pengevaluasian secara keseluruhan apakah pembelian tersebut memberikan kepuasan, jika tidak harus ada yang di perbaiki atau ditambah dalam prosesnya.

Referensi : http://rajapresentasi.com/2012/12/memahami-perilaku-konsumen-dalam-keputusan-pembelian/
                  http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen

Segmentasi Pasar dan Analisis Demografi

       Pemasaran memiliki kunci utama yaitu creating, communicating, delivering, value (ccdv). Segmentasi pasar merupakan kegiatan pembagian pasar menjadi beberapa segmen yang lebih kecil berdasarkan kepada pembeli yang memiliki kebutuhan, karakteristik, dan perilaku yang berbeda juga dari segi produk yang akan dibeli berbeda pula bisa juga diartikan sebagai pengidentifikasian dan menganalisis pembeli di pasar produk. Kebutuhan dari berbagai individu yang berbeda dengan karakteristik dan peerilaku yang berbeda diperlukannya identifikasi dan analisis agardapat membedakan ataupun membagi pasar dalam beberapa bagian disini diperlukan segmentasi pasar.
      pentingnya segmentasi pasar didasarkan atas deskripsi dan identifikasi ukuran pasar,lebih fokus dalam alokasi sumberdaya, dan sebagai dasar pengembangan 4P (product,price,place,promotion). karakter kunci segmentasi harus bisa diukur, segmen harus menguntungkan, dan harus dapat diakses dan dilayani secara efektif.
        Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam melakukan segmentasi pasar di antaranya adalah:
Faktor geografis: wilayah (kawasan, negara), ukuran pemukiman (metropolitan, kota kecil), densitas area (urban, semi-urban, pedesaan), iklim (tropis, subtropis, sedang, dingin).
Faktor demografik: usia, jenis kelamin, ukuran keluarga, pendidikan, penghasilan, pekerjaan, status sosial-ekonomi, agama, kebangsaan/ras, bahasa.
Faktor psikografik: kepribadian, gaya hidup, nilai, sikap.
Faktor perilaku: kesetiaan terhadap merk, tingkat penggunaan produk, kesiapan membeli.
      Menurut Waizly Darwin (Chief of executive marketeer media) di indonesia terdapat 3 karakter pembeli yaitu snob, smart, dan dumb. tipe snob adalah konsumen yang tidak peduli dengan harga biasanya lebih ke arah lifestyle dan status di masyarakat, kedua tipe smart adalah konsumen yang membeli produk secara rasional atau masuk akal, dan yang terakhir tipe dumb adalah konsumen yang hamya mementingkan harga yang murah. Hal-hal tersebut menggambarkan bagaimana kondisi pasar di indonesia dan dapat dijadikan bahan untuk pertimbangan dan pembangunan strategi pasar, segmentasi berdasarkan psikografik di masa ini ternyata lebih akurat di banding segmentasi berdasarkan geografis dan demografi.

 Segmentasi demografi adalah cara segmentasi yang paling populer sebagaidasar untuk membagi kelompok pelanggan. Pada umumnya pelanggan memiliki keterkaitan eratdengan variabel-variabel demografi seperti pendapatan dan usia. Juga,untuk alasan praktis, sering ada lebih banyak data yang tersedia untuk membantudengan proses segmentasi demografis. Segmentasi demografi terdiri dari membagi pasar ke dalam kelompok berdasarkan pada variabel seperti sebagai berikut:
1. Umur
 Kebutuhan dan keinginan konsumen berubah dengan usia meskipun merekamungkin masih ingin konsumen jenis produk yang sama. Jadi seorang pemasar mendesain, paket dan mempromosikan produk yang berbeda untuk memenuhikeinginan kelompok usia yang berbeda. Contoh yang baik termasuk pemasaran pasta gigi (kontras branding pasta gigi untuk anak-anak dan orang dewasa).
2.Tahap siklus hidup
 Tahap siklus hidup konsumen merupakan variabel penting, terutama di pasar seperti rekreasi dan pariwisata. Semisal golongan kaum muda lebih senang berkunjung ke Dunia Fantasi Ancol sedang golongan yang lebih tua memilih untuk wisata kebun di Taman Buah Mekarsari.
3. Gender
 Segmentasi yang berbasis gender banyak digunakan dalam pemasaran. Contohnyauntuk pemasaran produk golongan pakaian, tata rambut, majalah dan perlengkapanmandi dan kosmetik.
4. Penghasilan
 Dasar segmentasi lain yang popular adalah besarnya penghasilan konsumen.Banyak perusahaan mentargetkan pasar pada konsumen yang makmur untuk  barang-barang mewah dan jasa kenyamanan. Sebagai contoh layanan prima yang diberikan perbankan untuk solusi nasabah yang berpenghasilan atau memiliki asetyang besar. Sebaliknya, banyak perusahaan fokus pada produk pemasaran langsungke konsumen dengan pendapatan yang relatif rendah. Contohnya perusahaan yangmemproduksi sabun colek dibanding detergen premium.
5. Kelas social
 Banyak pemasar yang percaya bahwa preferensi dipengaruhi oleh kelas sosialkonsumen. Seperti preferensi konsumen terhadap barang-barang sperti mobil, pakaian, perabot rumah, kegiatan santai dan produk/jasa lainnya. Hal ini menggambarkan adanya hubungan yang jelas antara kelas sosial dengan tingkat pendapatan.
6. Gaya hidup
 Pemasar semakin tertarik pada pengaruh "gaya hidup" dengan tingkat permintaankonsumen. Namun sayangnya, ada banyak sistem kategorisasi gaya hidup yang berbeda, karena sebagian gaya hidup justru diarahkan oleh pembuat iklan.
         
      Data demografi dapat digunakan untuk mengidentifikasikan karakteristik  populasi untuk menentukan siapa pelanggan potensial, dan menentukan area geografisdimana mereka menetap. Informasi ini dapat digunakan untuk usaha pemasaran produk/jasa, bagaimana mengiklankannya, serta bagaimana perilaku pembelian mereka.(Putri, 2007)Data ini umumnya digunakan oleh bisnis untuk mengidentifikasikan target pasar  bagi barang dan jasa mereka. Demografi umumnya digunakanuntuk memberitahukanmengenai siapa pelanggan apa, dimana lokasi mereka, apa gender mereka dan bagaimana Anda ingin produk Anda dibeli oleh mereka. 
      Pergeseran-pergeseran komponen kependudukan seperti distribusi menurutumur, distribusi menurut wilayah, struktur umur, struktur pekerjaan, pola migrasi dan penurunan tingkat mortalitas dan fertilitas harus diamati secara seksama, terutama pengaruhnya terhadap segmentasi pasar, daya beli dan tingkah laku pengeluaran atas barang dan jasa. Hal ini menunjukkan bahwa struktur demografi mempengaruhivariable yang lain (dependent variable). Namun adakalanya variable lain mempengauhistruktur demografi seperti halnya sebelum kota Batam dijadikan sentra industrikota tersebut memiliki penduduk yang sedikit, setelah dijadikan sentra industri makamulailah kota Batam menjadi ramai. Oleh karena itu data demogarfi bisa kita anggapsebagai variable independent, sekaligus dependent. (Effendi, 2010)
  
      Lima alasan mengapa kita tidak dapat mengabaikan segmentasi demografis yaitu:
1. Segmentasi dengan cara apapun selalu harus dilihat darikacamata demografi.Segmentasi gaya hidup, teknografi misalnya tetap harus dilihat dalam hubungannyadengan variabel-variabel demografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan dansebagainya. Segmen-segmen itu biasanya berhubungan erat dengan karakter-karakter kependudukan.

2. Informasi demografi adalah informasi yang paling mudahdijangkau dan paling murah untuk  mengidentifikasi target market. Sekalipun informasi ini tidak begitu sempurna untuk pemasaran.

3. Informasi demografi memberikan insight tentang trend yangsedang terjadi. Perubahan-perubahan penduduk menurut usia atau jenis rumahtangga akan menentukan jumlah permintaan beberapa jenis barang/jasa.

4. Demografi dapat digunakan untuk melihat perubahan permintaan aneka produk.

5. Demografi dapat digunakan untuk mengevaluasi kampanye-kampanye pemasaran suatu bisnis. Keberhasilan pemasaran harus bisa diukur dari besarnya pasar dan tekanan-tekanan pesaing pada pasar yang sama.

Pembelian mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik. Setiap pembeli, berpotensi menjadi pasar yang terpisah. Oleh karena itu segmentasi pasar dapat dibangun pada beberapa tingkat yang berbeda.
-Pemasaran massal
Pemasaran massal berfokus pada produksi massal, distribusi massal, dan promosi massal untuk produk yang sama dalam cara yang hampir sama keseluruh konsumen.
-Pemasaran segmen
Pemasaran segmen menyadari bahwa pembeli berbeda dalam kebutuhan, persepsi, dan perilaku pembelian.
-Pemasaran ceruk
-Pemasaran ceruk (marketing niche) berfokus pada sub-group di dalam segmen-segmen. Suatu ceruk adalah suatu grup yang didefiniskan dengan lebih sempit.
-Pemasaran mikro
Praktik penyesuaian produk dan program pemasaran agar cocok dengan citarasa individu atau lokasi tertentu. Termasuk dalam pemasaran mikro adalah pemasaran lokal dan pemasaran individu.
Manfaat dari segmentasi pasar adalah:
-Penjual atau produsen berada dalam posisi yang lebih baik untuk memilih kesempatan-kesempatan pemasaran.
-Penjual atau produsen dapat menggunakan pengetahuannya terhadap respon pemasaran yang berbeda-beda, sehingga dapat mengalokasikan anggarannya secara lebih tepat pada berbagai segmen.
-Penjual atau produsen dapat mengatur produk lebih baik dan daya tarik pemasarannya.

Referensi : https://id.scribd.com/doc/99075952/Analisis-Demografi-Sebagai-Salah-Satu
                   http://www.itb.ac.id/news/4228.xhtml
                   http://id.wikipedia.org/wiki/Segmentasi_pasar
                   http://www.warsidi.com/2009/12/segmen-pasar-market-segments.html