Minggu, 03 Mei 2015

Memang Kita Selalu TIdak Ada Pilihan

Kita (Selalu) Tidak Ada Pilihan

Saya akan menulis berdasarkan sesuatu yang terjadi dalam rentang hidup saya. Sejarah yang saya rasakan, yang saya tangkap dari TV atau media cetak saat saya hidup. Ini terkait dengan pemimpin negeri ini. Sepertinya rakyat Indonesia selalu jadi bulan-bulanan pemimpin, lalu terjebak dalam buah simalakama, selalu dalam kondisi, “kita tidak ada pilihan.”
Pergantian Soekarno ke Soeharto, kita skip, karena saya lahir 1976. Saya belum lahir saat “suksesi” ini berlangsung.
Pasca reformasi, tentu sesuai UUD 45, karena Soeharto turun, maka Habibie (sebagai wapres) menggantikannya. Kita tidak ada pilihan, ya ngikut saja. Habibie pun jadi presiden. Salah satu tugasnya adalah menyelenggarakan pemilu dan  Sidang Istimewa 1999. Pemilu dan SI 1999 pun dilaksanakan. Laporan pertanggungjawaban Habibie tidak diterima. Presiden kala itu masih dipilih oleh MPR. Ketua MPR adalah Amien Rais. Kita (rakyat) tidak ada pilihan, hanya bisa menonton manuver Amien Rais. Memunculkan Gus Dur sebagai calon presiden, dengan semangat asal bukan Mega yang jadi Presiden. 2001 pun kita tidak punya pilihan, lagi-lagi kita harus melihat manuver Amien Rais Jilid 2, menjatuhkan Gus Dur dan memunculkan Mega sebagai presiden.
Tahun 2001 saat bursa wapres di MPR, muncul nama SBY. Figur Jendral santun yang harus kalah dalam voting di MPR namun terlanjur menyita perhatian publik. Publik jatuh cinta pada SBY. Cinta itu kemudian bersemi selama dua periode. 2004-2009 dan 2009-2014. SBY adalah presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia. Kita tidak ada pilihan, sipil gagal menerima kepercayaan publik dan malah saling menjatuhkan dalam manuver di MPR, akhirnya publik merindukan sosok militer (yang santun). Kita tidak ada pilihan.
2014, ini paling seru. Militer vs Sipil, head to head. Pasangan calon mengrucut menjadi dua saja. Jokowi 2008 masih walikota di Solo. Program percepatan dari walikota, gubernur menjadi presiden membuat sebagian orang ragu akan kapasitasnya. Namun di sisi lain lawannya punya track record yang buruk soal pelanggaran HAM dan penculikan aktivis. Di sisi lain, eh ada Jendral Hendro Priyono juga yang punya track record yang belum jelas juga soal pelanggaran HAM terkait kasus Munir, masuk jadi tim sukses Jokowi.
Jokowi melenggang ke Istana. Dengan carut-marut yang terjadi hari ini, akhirnya kita kembali hanya bisa berkata, “Kita tidak ada pilihan,” saat itu. 

Selalu Ada Pilihan Yang Diarahkan

Indonesia Telah melakukan 11 kali Pemilihan Umum sejak rezim orde lama berakhir, namun yang paling di kenal oleh masyarakat adalah pemilu 1997-2014 yang baru di selenggarakan tahun lalu, memang setiap pemilu presiden di indonesia masyarakat seakan diarahkan untuk memilih salah satu calon presiden dan wakil presiden karena kepentingan-kepentingan politik dari setiap golongan atau partai politik. Hal ini menyebabkan ketidak sesuaian dengan apa yang diharapkan oleh rakyat dan apa yang terjadi di dalam pemerintahan. kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah seringkali tidak sesuai dengan apa yang rakyat harapkan, hal ini dikarenakan adanya kepentingan golongan-golongan tertentu dalam elite pemerintahan.
pada pemilu tahun 1997 partai golkar menang telak dengan suara terbanyak yang mengantarkan ketua umum partai golkar pada masa itu menjabat sebagai presiden, bagaimana tidak indonesia telah di pimpin oleh sosok soeharto selama 32 tahun, tak ada pilihan lain bagi rakyat, karena masih terbelenggu oleh sosok kepemimpinan soeharto yang membuat rakyat percaya dan menggunakan hak suaranya untuk memilih partai yang diketuai oleh soeharto ini.
pada pemilu tahun 1999 dibawah kepemimpinan Bj. habiebie yang menggatikan soeharto karena kelengserannya setelah pemilu yang memenangkannya kembali untuk memimpin indonesia, habiebie selaku wakil presiden kala itu menggantikan posisi soeharto dan menjadi presiden sampai dilakukan pemilihan umum kembali, pemilihan umum yang seharusnya dilakukan 5 tahun sekali pada kala itu dipercepat karena rakyat ingin melakukan pemilihan umum kembali, partai PDIP menang suara terbanyak pada kala itu, namun yang diangkat menjadi presiden adalah KH. abdurrahman wahid (Gusdur) karena pemilihan presiden kala itu dilakukan oleh MPR dan megawati soekarno putri menjabat sebagai wakil presiden, rakyat tidak bisa berbuat banyak dan hanya mengikuti apa yang telah digariskan oleh para elite-elite politik yang mempunyai kepentingan, hingga akhirnya gusdur lengser karena penyakit yang dideritanya dan megawati menjadi presiden mengganti gusdur sampai pemilu berikutnya.
Selanjutnya pemilu tahun 2004 yang dimenangkan oleh partai demokrat dan pada pemilu kali ini calon presiden dan wakil presiden dipilih melalui pemungutan suara (pemilu langsung) dan dipilih oleh rakyat. Dan mengantarkan pasangan SBY-JK ke kursi pemerintahan. berlanjut pada pemilu 2009 SBY kembali mencalonkan diri di dampingi oleh bodioeno dan kembali terpilih melalui pemilu langsung yang mengalahkan jusuf kalla yang waktu itu mencalonkan diri sebagai calon presiden. Rakyat masih dibelenggu pesona sosok SBY yang bijak (wise man) memang tidak ada alasan lain untuk tidak memilih SBY kala itu.
Pemilu tahun 2014 yang baru berlangsung setahun yang lalu mengantarkan Jokowi dan JK terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. partai golkar mendapatkan suara tertinggi pada pemilu tahun ini, namun tak ada dukungan yang kuat sehingga calon presiden tidak dari partai golkar. rakyat indonesia seperti dibelah pada dua blok, yang sebenarnya kedua calon tidak cukup untuk mewakili rakyat memimpin bangsa ini. kedua calon terikat permasalahan-permasalahan yang rakyat pun mengetahui latar belakang keduanya tapi rakyat tidak bisa berbuat banyak pemilu tetap dijalankan mengantarkan kedua calon presiden dan wakil presiden kedalam pemungutan suara yang dilaksanakan. ada yang sedikit lebih baik dari kedua pasangan yang membuat pasangan Jokowi-JK mendapatkan suara terbanyak hanya selisih tipis dari pasangan lainnya. Sebenernya masih ada pilihan untuk golput, namun sebagai warga negara yang baik harus memakai hak suaranya untuk memilih. dan hingga pemilu yang baru saja diselenggarakan tahun lalu, rakyat tidak bisa berbuat banyak, suara mereka layaknya diarahkan untuk memilih salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sebenernya pilihan itu tidak pernah ada.

sumber : http://notaslimboy.com/2015/03/30/kita-tidak-ada-pilihan/
                http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_di_Indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar