Minggu, 07 Desember 2014

Sikap Motivasi dan Mawas Diri

Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan.
Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor maupun teori motivasi kontemporer, arti motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang. Berbeda dengan motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat yang seringkali disamakan dengan semangat, seperti contoh dalam percakapan "saya ingin anak saya memiliki motivasi yang tinggi". Statemen ini bisa diartikan orang tua tersebut menginginkan anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi. Maka, perlu dipahami bahwa ada perbedaan penggunaan istilah motivasi di masyarakat. Ada yang mengartikan motivasi sebagai sebuah alasan, dan ada juga yang mengartikan motivasi sama dengan semangat.
Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.
Kepekaan kita terhadap hal-hal kecil, lingkungan dan orang-orang disekitar kita membuat kedewasaan sikap, itulah yang disebut mawas diri. Mawas diri adalah kemampuan untuk mengatur respons sosial di dunia nyata, mengubah apa yang kamu lakukan agar sesuai dengan kultur, lingkungan, dan kebiasaan orang yang kamu ajak berkomunikasi. Seperti halnya naluri hewan untuk mempertahankan diri dengan berbagai macam cara agar dia terhindar dari predator, misalnya : Ikan anglerfish (Antennarius) dari Filipina mempunyai satu pemikat yang mirip ikan kecil untuk memikat mangsanya, pemikat tersebut adalah perkembangan dari duri pada sirip punggung pertama. Kunang-kunang jantan dan betina saling tertarik dengan cahaya kelap-kelipnya, pola kelap-kelip ini berbeda untuk setiap spesies. Tetapi ada suatu spesies kunang-kunang betina yang dapat meniru kelap-kelip spesies yang lain, bila jantan spesies yang lain itu datang akan dimakan. Manusia juga (bahkan) mempunyai naluri untuk bersikap waspada atau hati-hati dimana dia berada. Naluri adalah bahasa buana dalam jiwa seorang manusia.
Mawas diri itu adalah naluri dasar manusia, namun seiring terabaikan dan terkalahkan dengan seribu macam nafsu keegoan. Bayi justru mempunyai naluri mawas diri yang lebih tinggi dibanding kita yang telah dewasa. Lihatlah ketika kita menggendong bayi, secara refleks si bayi tersebut berpegangan pada tubuh kita, karena dia melindungi dirinya dari kemungkinan jatuh. Selalu, harusnya kita mengasah naluri kita untuk selalu mawas diri. Karena hidup didunia ini seperti hidup di tengah hutan belantara. Manusia dan seluruh mahkluk berlomba dalah mempertahan hidup masing-masing. Lebatnya belantara hidup membuat kita harus selalu waspada, karena hidup begitu keras dan gelap, kadang kitapun harus saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya.
            Sikap motivasi dan mawas diri sangat diperlukan oleh konsumen dalam melakukan proses pembelian, individu membutuhkan masukan-masukan untuk melakukan pembelian dan mawas diri adalah sebagai pengontrol individu dalam melakukan pembelian agar tidak berlebihan atau tidak efektif dan efesien dalam melakukan pembelian.

sumber : http://filsafat.kompasiana.com/2011/10/30/mawas-diri-itu-sebuah-naluri-405913.html
              http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar