Minggu, 04 Januari 2015

Rokok Kretek, Komoditas Utama Zaman Hindia Belanda

Industri rokok kretek mampu menjadi penopang ekonomi di zaman Belanda saat Hindia Belanda mengalami krisis Malaise pada tahun 1930-an. Saat itu semua industri milik Belanda seperti gula mengalami kebangkrutan. Sementara itu industri rokok kretek bertahan. Itu disebabkan karena industri rokok kretek dikonsumsi penduduk pribumi dan dikelola para saudagar-saudagar pribumi. Industri kretek sebagian besar berbasis di desa sebagai industri rumahan. Meski begitu, industri ini mampu berkembang sangat pesat. Industri kretek pula sangat menguntungkan bagi pihak pribumi, mengapa? Karena dari hulu ke hilir, industri ini dimiliki sebagian besar oleh penduduk pribumi yang bahan bakunya pula disediakan semua dari pihak pribumi yang sebagian besar masih eksis hingga masa reformasi saat ini. Tetapi kita tidak akan menemukan orang pribumi yang menjadi direktur perusahaan-perusahaan besar saat itu. Selain itu industri kretek juga ikut membangun jaringan ekonomi yang sangat luas. Banyak yang menggantungkan hidupnya dari industri kretek, mulai pemilik toko, asongan, warung-warung, dan pekerja industri rokok.
Lebih dari itu, kretek sebagai warisan budaya Indonesia mempunyai ciri khas pada rasa dan aromanya. Keunikan inilah yang bisa mengategorikan kretek sebagai warisan budaya.  Sayangnya selama ini kretek selalu dikaitkan dengan kesehatan, kebijakan politik, sampai hubungannya dengan sosio-kultural masyarakat Indonesia. Namun sangat jarang yang mengkaji kretek dari sisi historis. Padahal ramuan dalam setiap merek diwariskan secara turun-temurun, sehingga masing – masing merek tersbut mempunyai nilai historis yang kuat karena pastinya tiap ramuan mempunya latar belakang yang beda dan bisa dijadikan sebagai media pembelajaran sejarah.
Kretek adalah rokok yang terbuat dari campuran tembakau dan cengkeh. Kata “kretek” sendiri berasal dari bunyi gemeretak cengkeh yang timbul ketika rokok dibakar.
Tembakau telah hadir di Indonesia sejak 1600-an ketika tembakau dibawa ke pulau Jawa oleh pedagang dari Portugis. Tembakau (tembako dalam bahasa Jawa) secara fonologis lebih dekat dengan kata “tumbaco” dalam bahasa Portugis.
Pada awalnya, rokok di Indonesia hanya dibuat di rumah, dilinting dan dibungkus dengan kulit jagung. Tidak sampai akhir abad ke-19 orang-orang mulai menambahkan cengkeh untuk rokok mereka. Tren ini berlangsung cepat dalam beberapa tahun kemudian dimana rokok kretek mulai diproduksi secara komersial. Orang yang diyakini pertama kali mencampurkan cengkeh ke dalam rokok adalah Haji Jamhari, seorang warga Kudus. Ia mulai memproduksi dan memasarkan penemuannya. Dengan meningkatnya popularitas kretek, berbagai industri rumahan turut menjamur memproduksi rokok kretek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar