Minggu, 04 Januari 2015

Pengaruh Individu Terhadap Keputusan Pembelian

Analisis pelanggan didasarkan pada pola-pola perilaku, bukan hanya menyeimbangkan.tiga grafik dan menggunakan distribusi waktu untuk secara dinamis menggambarkan perilaku keuangancustomer selama beberapa periode, Transaksi customer dan perilaku tren serta analisis data dapatmemberikan petunjuk penting untuk penguatan atau melemahnya hubungan serta menyarankan penjualan preemptive dan tindakan layanan untuk melestarikan hubungan.Selain kaya sumber data internal perusahaan sudah tersedia untuk mereka, pertumbuhan media sosial dandata digital publik lainnya menawarkan peluang baru untuk mendapatkan wawasan menguntungkan.Dengan menghubungkan Data perusahaan internal dengan data digital pelanggan menciptakan online, perusahaan dapat lebih meningkatkan pemahaman mereka tentang kebutuhan pelanggan, keinginan, dansituasi.Contoh: perusahaan mungkin menggunakan data media sosial untuk target pelanggan denganmenawarkan atau jasa sejalan dengan peristiwa kehidupan baru (misalnya, wisuda, pekerjaan baru, pernikahan, kelahiran, perceraian, dll).
Dengan menerapkan analisis sentimen pelanggan data mediasosial, perusahaan mendapatkan apresiasi yang lebih baik dari individu dan komunitas virtual, berpikirtentang produk baru, dan apa saja aspek-aspek tertentu dari lembaga atau jasa yang mereka sangat sukaiatau tidak mereka sukai.Sebuah tantangan bagi banyak perusahaan adalah mencari tahu bagaimana menggunakan "non-terstruktur" data pada situs-situs sosial (sebagai lawan dari "terstruktur" data dalam database tradisional).Selain menggunakan media sosial sebagai sumber data pelanggan tambahan, perusahaan dapat mengujidan mengukur bagaimana cara terbaik untuk menggunakan media sosial sebagai saluran untukmeluncurkan kampanye produk. serta berpromosi PEMBELAJARAN KONSUMEN (CONSUMER LEARNING)Konsep pembelajaran dibutuhkan memahami kebiasaan, pembelajaran dapat didefenisikan sebagai perubahan perilaku yang berasal dari hasil pengalaman masa lalu. Ada dua aliran pemikir tehadap pemahaman proses pembelajaran konsumen pembelajaran perilaku. Menitiberatkan pada dorongan pada pengaruh perilaku atau perilaku itu sendiri. pembelajaran kognitip menitiberatkan pada pemecahanmasalah dan menekankan pada variabel pemikiran konsumen yang mempengaruhi pembelajaran.Dalam kelompok perilaku dikembangkan dua teori pembelajaran, perbedaan terjadi pada “ classicalconditioning “ dan “ Instrumental conditioning. Pada “ classical conditioning” menerangkan perilaku berdasar pada pendirian hubungan tertutup antara dorongan primer dan dorongan sekunder. “ Instrumental conditioning “ memandang perilaku sebagai fungsi dari tindakan konsumen . Kepuasan mengarahkan pada kemungkinan melakukan pembelian. Pembelajaran mengarahkan kepada pembelian yang berulang dan kebiasaan. Dalam model yang menggambarkan perilaku kebiasaan pembelian, pengarahan kebutuhan mengarah langsung pada perhatian membeli, pembelian selanjutnya, dan evaluasi sesudah pembelian. Proses pencarian informasi danevaluasi merek sangat sedikit (minimal).Kebiasaan menggambarkan dua fungsi penting, yaitu penurunan resiko untuk pembelian dengan tingkatketerlibatan yang tinggi dan penghematan waktu serta energi untuk produk dengan tingkat keterlibatanyang rendah.Kebiasaan seringnya mengarahkan kepada kesetiaan merek yaitu pada pembelian yang berulang berdasarkan pada kesesuaian merek. Teori pembelajaran yang berbeda menjabarkan dua pandangan yang berbeda terhadap kesetiaan merek. Pendekatan instrumental conditioning menunjukkan bahwa pembelianyang konsisten terhadap suatu merek mencerminkan komitmen terhadap suatu merek. Tetapi sebagian loyalitas mencerminkan pembelian yang berulang adalah bukan karena komitmen dengan merek tetapimerupakan  proses inertia. Kelompok kognitip percaya bahwa perilaku saja tidak cukup sebagai ukuranloyalitas, diperlukan komitmen sikap terhadap suatu merek

Empat Tipe Perilaku Konsumen
Berdasarkan pada tingkat keterlibatan dan pengambilan keputusan ada empat tipe perilaku konsumen :
Proses keterlibatan tinggi :
Pengambilan keputusan yang kompleks ,dan Kesetiaan merek
Proses keterlibatan rendah :
 pengambilan keputusan terbatas, dan Inertia.Tiga Pengaruh Yang Mempengaruhi Konsumen
Pengaruh pertama
terhadap pilihan konsumen adalah
 dorongan, Dorongan merupakan reaksi terhadapinformasi yang diterima konsumen.
 Proses informasi terjadi ketika konsumen mengevaluasi informasidari periklanan, teman, atau pengalaman sendiri terhadap suatu produk.
Pengaruh yang kedua
dan pengaruh sentral atas pilihan konsumen adalah konsumen.
 Karakteristik konsumen
adalah seperti demografis, gaya hidup, dan karakteristik personalia yangdigunakan untuk menggambarkan konsumen. Manajer pemasaran pertama menetukan apakahkarakteristik tersebut berhubungan atau tidak terhadap perilaku kemudian menggunakan pengetahuan ituuntuk mempengaruhi perilaku.Contoh bila pengguna nutrisi dewasa cenderung menjadi muda, berpenghasilan tinggi, berpendidikan, maka pesan iklan dirancang untuk menyesuaikan terhadap gruptersebut.
Pengaruh ketiga
atas pilihan konsumen adalah respon konsumen adalah hasil akhir proses keputusankonsumen dan merupakan pertimbangan integral seluruh buku ini. Respon konsumen umumnya berkenaan terhadap pilihan merek, namun bisa juga berkenaan terhadap pilihan kategori produk, pilihantoko, pilihan media komunikasi (mencari informasi dari TV ,radio atau membaca majalah). Proses “ Complex Decision Making “, terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil. Dalam kasus seperti ini,
konsumen secara aktif mencari informasiuntuk mengevaluasi dan mempertimbangkan pilihan beberapa merek dengan menetapkan criteria tertentu seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk mobil adalahhemat, daya tahan tinggi, dan peralatan. Subjek pengambilan keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan stratergi pemasaran.Proses “Brand Loyalty“ . Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga, makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan nutrisi. Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga,
 pencarian informasi dan evaluasi merekterbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.
Dua tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau keterlibatankepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia. Proses“ Limited Decision Making “.Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun merekatidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya memiliki sedikit pengalaman masalalu dari produk tersebut. Konsumen membeli barang mencoba-coba untuk membandingkan terhadapmakanan snack yang biasanya dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebihterbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi. Keputusan itu tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan bergantimerek apabila sudah bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan apabilaresikonya minimal.Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepentingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkinterlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lainmungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi. Proses “ Inertia “. Tingkat kepentingan dengan barang adalah rendah dan tidak ada pengambilan
keputusan. Inertia berarti konsumen membeli merek yang sama bukan karena loyal kepada merek tersebut,tetapi karena tidak ada waktu yang cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses pencarianinformasi pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson berpendapat bahwa dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “ kesetiaan merek hanya menggambarkan convenience yang

melekat dalam perilaku yang berulang daripada perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh pembelian sayur dan kertas tisu.

sumber : https://www.academia.edu/5170801/PERILAKU_KONSUMEN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar