Di indonesia terdapat beberapa kalangan di dalam masyarakat, pada dasarnya ada 5 kalangan yaitu kalangan bawah, menengah bawah, menengah, menengah atas dan kalangan atas. Di indonesia kebanyakan masyarakat berada dikalangan menengah, memang dibanyak negara berkembang seperti di indonesia kalangan menengah menjadi mayoritas pendudk negara tersebut. banyak survei yang mengatakan bahwa kalangan masyarakat di indonesia adalah konsumerisme dan hedonis. Namun disini terdapat 8 sosok kelas menengah di indonesia antara lain :
Performer adalah kalangan
professional dan entrepreneur yang memiliki ambisi luar biasa untuk membangun
kompetensi diri. Mereka adalah self-achiever yang menggunakan
kompetensi dan ketrampilan sebagai alat untuk mendongkrak tingkat ekonomi.
Karena itu mereka selalu meng-update informasi, mengadopsi teknologi, dan terus
belajar untuk meng-improve diri. Karena memegang informasi dan teknologi,
mereka cenderung melihat persaingan (dengan rekan-rekan kerja) secara positif.
Performer lebih selfish dengan misi hidup mencapai kebebasan
keuangan (financial freedom). Ya, karena mereka belum puas dengan
tingkat kehidupan ekonomi saat ini.
Aspirator adalah performer yang sudah mapan dan cukup puas
dengan kondisi ekonomi saat ini. Mereka juga open mind terhadap globalisasi dan
dan mengadopsi nilai-nilai universal. Karena sudah merasa cukup, maka orientasi
hidup mereka tidak lagi selfish. Ia mulai memikirkan hal-hal di luar dirinya:
mulai peduli dengan anggota DPR yang hobi korupsi; mulai peduli pesawat kok
jatuh melulu; mulai peduli dengan pemanasan global atau hutan Kalimantan yang
dibabat habis. Ia punya harapan menjadi influencer bagi masyarakat, lingkungan,
dan negaranya. Jadi tidak benar, seluruh kelas menengah Indonesia itu acuh tak
acuh terhadap negaranya.
Expert kebanyakan adalah profesional di berbagai bidang
mulai dari dokter, arsitek, konsultan, atau pengacara yang selalu berupaya
menjadi ekspert di bidang yang digelutinya. Setiap hari mereka sibuk menekuni
bidang profesinya dari pagi hingga larut malam. Dokter yang sudah laku
misalnya, harus mengurusi pasien-pasiennya dari pagi hingga dini hari. Hidupnya
cenderung rutin dan monoton, tapi mereka menikmatinya, karena semua pekerjaan
itu dilakukan dengan passionate. Karena “tertawan” oleh pekerjaan, mereka tidak
memiliki cukup waktu luang untuk anak-anak, jalan-jalan di mal, atau menghadiri
acara-acara keluarga/kerabat. Karena itu lingkungan pergaulan mereka juga
terbatas, melulu di lingkungan profesinya. Intinya, “their life is their
career”.
Climber adalah para pegawai pabrik (blue collar), salesman,
supervisor, dan sebagainya yang berupaya keras membanting-tulang untuk
menaikkan status ekonominya. Harapan utama mereka adalah mendongkrak karir dan
menaikkan taraf kehidupan menjadi lebih baik. Karena umunya masih mengawali
karir, mereka masih suka pindah-pindah kerja (job-hunter), risk-taker dalam
karir, dan cenderung melihat bahwa “career is a journey”. Seperti halnya
Expert, mereka memiliki sedikit waktu luang karena pagi-pagi harus berangkat ke
kantor atau pabrik dan lepas Magrib baru bisa pulang ke rumah dalam kondisi
capek. Umumnya mereka memiliki family-values yang tinggi dan bekerja keras
melulu untuk keluarga. Karena itu mereka adalah sosok “hero of their family”.
Follower umumnya adalah
kalangan muda (SMA dan kuliah) yang membutuhkan panutan (role model)
untuk menemukan dan menunjukkan eksistensinya. Kenapa butuh panutan? Ya karena
mereka masih mencari jati diri, belum punya banyak pengalaman, dan wawasannya
masih terbatas (short-term vision, less sense of purpose). Mereka adalah
generasi galau (ababil: “ABG labil”). Karena hal ini pula, tangible
aspect seperti tampilan fisik, kepemilikan barang mahal, atau citra
diri menjadi sesuatu yang penting. Bagi mereka teman adalah segalanya (friends
are everything) dan diterima di lingkungan teman merupakan sesuatu yang
penting untuk menunjukkan eksistensi mereka. Koneksi dengan teman (connecting
with friends) mereka lakukan melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter.
Trend-setter memiliki daya beli yang lebih tinggi (more resources)
dibanding follower. Karena lebih mampu, mereka ingin menjadi panutan dalam gaya
hidup (peripheral lifestyle) seperti fesyen, gaya selebriti, gadget, dan
sebagainya) bagi teman-temannya. They are victim of trends. Mereka
menemukan eksistensinya ketika diikuti dan menjadi center of attention di
lingkungan teman-temannya. Untuk bisa terus mengikuti tren dan isu-isu terbaru,
mereka aktif berkoneksi di lingkungan teman-temannya menggunakan Facebook atau
Twitter. Dengan karakteristik seperti itu, tak diragukan lagi bahwa mereka
adalah orang-orang narsis (narcissist) dan cenderung self-centered.
Flow-er adalah sosok yang tidak puas dengan tingkat
kehidupan ekonominya saat ini, namun mereka tak tahu harus bagaimana untuk
merubahnya. Karena tingkat pendidikan dan pengetahuan yang terbatas, mereka
cenderung kurang meng-update informasi dan mengadopsi teknologi sehingga
wawasan dan visi hidupnya terbatas. Dengan keterbatasan itu, hidup mereka cenderung
pasrah dan mengalir (flow) di tengah perubahan kehidupan (teknologi,
informasi, sosial, politik, dsb) yang cepat dan bergolak. Keluarga dan
(terutama) anak adalah aset terbesar yang mereka miliki. Di tengah
pergolakan hidup yang cepat pegangan mereka hanya satu, yaitu keyakinan agama (high
spiritual values). Karena itu mereka cenderung menyeimbangkan kehidupan
dunia dan akhirat.
Settler adalah Flow-er yang sudah memiliki kemapanan hidup. Sosok
ini merintis warung atau punya lahan luas hasil warisan yang menghasilkan
sumber keuangan cukup besar bagi kehidupan ekonomi. Mereka tidak lagi memiliki
keresahaan hidup dari sisi ekonomis. Hanya saja, berbeda dengan Aspirator atau
Performer, mereka bukanlah sosok yang knowledgeable, bisa jadi cuma lulus SD
atau SMP. Karena tingkat pengetahuan yang terbatas, maka mereka cenderung
memegang nilai-nilai tradisional dan fobia terhadap
perkembangan informasi, teknologi, dan globalisasi. Karena sudah puas dengan
sukses yang dicapai saat ini, mereka cenderung tidak belajar dan mengembangkan
diri. They are at the comfort zone.
Bila dilihat dari kelas sosial di kalangan masyarakat indonesia di atas memang dapat dikatakan bahwa masyarakat di indonesia adalah masyarakat yang konsumtif. Karena Negara-negara berkembang memang sudah menjadi tujuan penjualan produk-produk dari negara maju. Kecintaan terhadap produk dalam negeri harus terus ditingkatkan agar bangsa indonesia bisa menjadi bangsa yang mandiri. Lebih baik lagi bila kita dapat "Bikin Sendiri dan Jangan Beli"
sumber : https://id.scribd.com/doc/194081901/8-Sosok-Kels-Menengah-Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar